Setbu sedang asyik berbaring di ruang kerjanya sambil membaca buku ketika
tiba-tiba Setba menghampirinya. “Hai Setba, tumben kamu kesini” kata Setbu
terheran-heran. “Bu, ada bacaan lagi ga ?”
“Gak ada Ba, ini cuma satu. Aku sudah pernah baca sih, tapi daripada gak
ada kerjaan…”jawab Setbu tanpa mengalihkan pandangannya dari buku itu. Setba
terdiam dan membenarkan ucapan Setbu. “ Hm pasti si Ia sedang sibuk dengan
kerjaannya” gumam Setba. Mata Setba beralih ke ruang tempat dia berada saat ini.
Memperhatikan satu-satu alat kerja Setbu. Sirene bulat seperti sirine polisi
itu tampak kotor dan usang karena terlalu sering dipakai. Setba yakin sirine
itu tidak lagi berfungsi dengan baik. Begitu pula dengan speaker dan
mikrofonnya yang berada di samping sirine itu. Juga layar monitor dan
tombol-tombol penggerak yang berada di meja kerja. Tampak kotor dan usang. “
Tak jauh berbeda dengan punyaku di bawah” pikirnya. Setba menarik nafasnya
dalam-dalam dan melihat lagi Setbu yang sedang membaca itu. “Ya udah deh Bu
kalau begitu” kata Setba. “Aku balik saja.”
Setbu terlonjak kaget. Ketika tiba-tiba terdengar suara sirene yang terus
berbunyi. Dia langsung berdiri dan bersikap-siap untuk bekerja. Bersiap-siap
untuk menggerakkan mulut si Ia sesuai kata-kata yang tertulis di layar
monitornya : Nina…otak kamu dimana sih. Kerjaan ini salah. Saya kan sudah
bilang berkali-kali. Kenapa kamu bodoh sekali sih. Namun tiba-tiba lagi
terdengar suara Setba dari speakernya, “Bu, jangan gerakkan si mulut.”
“Kenapa?” tanya Setbu melalui mikrofonnya. “Biasa… si orang itu lagi. ” jawab
Setba. “Ntar aja kalau si Ia udah ketemu sahabatnya.” tambahnya. “Ah orang itu
lagi...orang itu lagi. Kenapa gak orang lain aja sih yang diajak ngomong sama
si Ia. Ya udah deh kalau begitu.” balas Setbu sambil kembali meneruskan
membaca. “Ah gimana sih Setba itu. Kalau memang tidak menyuruhku bekerja,
kenapa dia membunyikan sireneku. Sering dia seperti itu. Bikin kaget aku aja.”
gumam Setbu.
Pikiran Setbu melayang-layang. Dia tidak dapat
berkonsentrasi untuk membaca lagi. Dia masih kesal dengan Setba. Tapi Setba
adalah saudaranya. Mereka mempunyai bentuk fisik yang sama. Kuping, hidung,
gigi, kaki, semuanya sama. Yang membedakan hanya kulit Setba tidak semerah
kulitnya, sedikit lebih muda, tapi terlihat jelas bedanya. Walaupun begitu
Setba dan dirinya selalu bersama-sama dan tidak terpisahkan sejak kecil. Bahkan
pertengkaran tidak mampu memisahkan mereka, karena sudah menjadi seperti udara
bagi mereka. Dan bila satu hari saja mereka tidak bertengkar atau berkelahi,
baik itu antara mereka sendiri maupun sepupu atau tetangga, orang tua mereka
mengatakan mereka sebagai pecundang. Dan ketika sudah dewasa, mereka diharuskan
bekerja, seperti yang lain. Mereka diwajibkan menjalani pelatihan terlebih dulu
di banyak si Ia untuk melihat cara rekan-rekan mereka dalam menggerakkan hati
dan mulut masing-masing si Ia-nya.
“Setbu…..Setbu…..Setbuuuuu….” Lagi-lagi Setbu terlonjak kaget. Lamunannya
buyar seketika, waktu mendengar teriakan Setba di speaker. Dia langsung menuju
meja kerjanya. “Kamu lagi ngapain sih? Kuping kamu tuli ya, gak dengar suara
sirene.” teriak Setba lagi. “Aku tadi ketiduran. Lagipula sirenenya gak nyala”
jawab Setbu berbohong sambil mematikan sirinenya. “Ya udah cepet kerja. Dasar
pemalas.” balas Setba. Setbu langsung menekan tombol-tombol untuk menggerakkan
mulut si Ia ; Eh Tami. Tahu gak, si Nina, orang baru itu, bodoh sekali.
Masa’ kerjaan gitu aja susah banget. Aku sudah berkali-kali mengajarinya, tapi
dia tetap aja dia gak bisa-bisa. Hampir saja aku tadi kelepasan ngomong
kata-kata kasar saking sebalnya. Dasar anak bodoh. Uuh, capek aku. Dan
tidak ada satupun kata-kata yang terlewatkan oleh Setbu. Tidak akan pernah.
Karena begitulah pekerjaannya.
Setbu kembali berbaring sambil menahan kesal. “Dasar Setba sok banget sih
dia. Sok kuasa. Mentang-mentang dia yang menggerakkan hati si Ia, seenaknya aja
dia bentak-bentak. Apa sih kelebihan dia. Umurnya sama dengan umurku. Sifatnya
juga sama. Dan dia juga gak lebih pintar daripada aku. Cuma warna kulit aja
yang beda.” sungut Setbu. Setbu terdiam. Dia menoleh ke mahluk berjubah putih
yang berada di sebelahnya, yang sedang tidur-tiduran. Alat-alat kerja mahluk
itu sama dengan alat kerjanya, speaker, mikrofon, sirene dan layar monitor
beserta tombol-tombolnya. Tapi alat-alat kerja itu masih bersih dan berfungsi
dengan baik. Speaker dan mikrofonnya tidak berdengung, sirenenya masih halus
suaranya dan layarnya masih terang. Ah pantas aja masih bagus. Jarang banget
dipakai sih, pikir Setbu sambil melengos. Namun yang mengherankan, mahluk yang
di sebelahnya itu tidak pernah sekalipun bertengkar dengan saudaranya, yang
mempunyai tugas menggerakkan hati si Ia, sama seperti Setba. Setbu menyeringai.
Sinis. Lalu kembali melihat layar monitornya; Baju apaan tuh. Udah
ketinggalan jaman aja masih tetap dipakai. Bahannya juga jelek. Pasti murahan.
Tidak seperti punyaku Kemudian
tulisan itu berganti; Sepatunya juga amit-amit banget. Model kuno. Dasar
kampungan. Orang miskin kali dia. Untung aku tidak seperti itu. Dan Setbu
lagi-lagi tidak menghiraukannya. Karena sirenenya tidak berbunyi…….
Setbu kembali melirik mahluk berjubah putih di sebelahnya.
Ah dia masih tidur, pikirnya. Setbu maklum karena memang di mana-mana seperti itu. Ya, ia ingat
ketika pelatihan dulu. Semua si Ia yang didatanginya bersama Setba, sebagian
besar rekan-rekannya lebih banyak bekerja dibandingkan mahluk berjubah putih
itu. Tapi pernah mereka menemui rekannya yang kerjanya hanya berleha-leha saja
sepanjang hari. Semua peralatan kerjanya dari tombol sampai layarnya masih
bagus, tidak seperti peralatan kerja rekan-rekannya yang lain. Malahan
peralatan kerja mahluk berjubah putih di sebelahnya yang terlihat usang. Layar
monitor yang menampilkan tulisan ; Kenapa Bella sampai melakukan kesalahan
fatal seperti itu ya ? Tidak seperti biasanya. Ah, mungkin dia sedang tidak
enak badan atau mungkin ada masalah pribadi yang belum terselesaikan. Lebih
baik aku tanyakan saja sekarang kepadanya , itu saja kadang-kadang meredup
dan bergoyang tiba-tiba. Namun tampaknya mahluk berjubah putih itu tidak
terganggu olehnya. Dia tetap saja menekan tombol-tombol yang cetakan hurufnya
sudah tidak jelas itu dengan tekun. Saat itu Setbu dan Setba hanya diam terheran-heran. “ Unik
sekali si Ia yang satu ini.”, pikir mereka.
Setbu menggeliat. Kakinya direntangkan lurus-lurus. Dan matanya kembali
beralih ke layar monitornya yang terus saja berganti-ganti tulisan. Terus
menerus. Setiap saat. Tapi dia tidak membacanya. Cuma melirik. Karena sirenenya
tidak berbunyi. Wah Setba memang pekerja keras, pikirnya. Memang tugas
menggerakkan hati si Ia lebih banyak dan lebih berat dibanding menggerakkan
mulut si Ia. Di semua tempat juga begitu, pikirnya lagi. Tidak mengherankan.
Sudah biasa….
Dan sudah biasa pula Setbu akan menekan tombol-tombol
penggerak mulut si Ia bila sirenenya berbunyi. Dan akan menggoyang-goyangkan
kaki sambil bersiul-siul bila sirenenya tidak berbunyi. Begitu terus sepanjang
hari.
Karena memang begitu sistem kerja SETBU, si SETAN BURUK
dan SETBA, si SETAN BAIK…
Jakarta, 9 September
2006
Oleh : Cynthia Indri KD

No comments:
Post a Comment