Monday, 9 March 2015

SETBU DAN SETBA


Setbu sedang asyik berbaring di ruang kerjanya sambil membaca buku ketika tiba-tiba Setba menghampirinya. “Hai Setba, tumben kamu kesini” kata Setbu terheran-heran. “Bu, ada bacaan lagi ga ?”  “Gak ada Ba, ini cuma satu. Aku sudah pernah baca sih, tapi daripada gak ada kerjaan…”jawab Setbu tanpa mengalihkan pandangannya dari buku itu. Setba terdiam dan membenarkan ucapan Setbu. “ Hm pasti si Ia sedang sibuk dengan kerjaannya” gumam Setba. Mata Setba beralih ke ruang tempat dia berada saat ini. Memperhatikan satu-satu alat kerja Setbu. Sirene bulat seperti sirine polisi itu tampak kotor dan usang karena terlalu sering dipakai. Setba yakin sirine itu tidak lagi berfungsi dengan baik. Begitu pula dengan speaker dan mikrofonnya yang berada di samping sirine itu. Juga layar monitor dan tombol-tombol penggerak yang berada di meja kerja. Tampak kotor dan usang. “ Tak jauh berbeda dengan punyaku di bawah” pikirnya. Setba menarik nafasnya dalam-dalam dan melihat lagi Setbu yang sedang membaca itu. “Ya udah deh Bu kalau begitu” kata Setba. “Aku balik saja.”
Setbu terlonjak kaget. Ketika tiba-tiba terdengar suara sirene yang terus berbunyi. Dia langsung berdiri dan bersikap-siap untuk bekerja. Bersiap-siap untuk menggerakkan mulut si Ia sesuai kata-kata yang tertulis di layar monitornya : Nina…otak kamu dimana sih. Kerjaan ini salah. Saya kan sudah bilang berkali-kali. Kenapa kamu bodoh sekali sih. Namun tiba-tiba lagi terdengar suara Setba dari speakernya, “Bu, jangan gerakkan si mulut.” “Kenapa?” tanya Setbu melalui mikrofonnya. “Biasa… si orang itu lagi. ” jawab Setba. “Ntar aja kalau si Ia udah ketemu sahabatnya.” tambahnya. “Ah orang itu lagi...orang itu lagi. Kenapa gak orang lain aja sih yang diajak ngomong sama si Ia. Ya udah deh kalau begitu.” balas Setbu sambil kembali meneruskan membaca. “Ah gimana sih Setba itu. Kalau memang tidak menyuruhku bekerja, kenapa dia membunyikan sireneku. Sering dia seperti itu. Bikin kaget aku aja.” gumam Setbu.
Pikiran Setbu melayang-layang. Dia tidak dapat berkonsentrasi untuk membaca lagi. Dia masih kesal dengan Setba. Tapi Setba adalah saudaranya. Mereka mempunyai bentuk fisik yang sama. Kuping, hidung, gigi, kaki, semuanya sama. Yang membedakan hanya kulit Setba tidak semerah kulitnya, sedikit lebih muda, tapi terlihat jelas bedanya. Walaupun begitu Setba dan dirinya selalu bersama-sama dan tidak terpisahkan sejak kecil. Bahkan pertengkaran tidak mampu memisahkan mereka, karena sudah menjadi seperti udara bagi mereka. Dan bila satu hari saja mereka tidak bertengkar atau berkelahi, baik itu antara mereka sendiri maupun sepupu atau tetangga, orang tua mereka mengatakan mereka sebagai pecundang. Dan ketika sudah dewasa, mereka diharuskan bekerja, seperti yang lain. Mereka diwajibkan menjalani pelatihan terlebih dulu di banyak si Ia untuk melihat cara rekan-rekan mereka dalam menggerakkan hati dan mulut masing-masing si Ia-nya. 

“Setbu…..Setbu…..Setbuuuuu….” Lagi-lagi Setbu terlonjak kaget. Lamunannya buyar seketika, waktu mendengar teriakan Setba di speaker. Dia langsung menuju meja kerjanya. “Kamu lagi ngapain sih? Kuping kamu tuli ya, gak dengar suara sirene.” teriak Setba lagi. “Aku tadi ketiduran. Lagipula sirenenya gak nyala” jawab Setbu berbohong sambil mematikan sirinenya. “Ya udah cepet kerja. Dasar pemalas.” balas Setba. Setbu langsung menekan tombol-tombol untuk menggerakkan mulut si Ia ; Eh Tami. Tahu gak, si Nina, orang baru itu, bodoh sekali. Masa’ kerjaan gitu aja susah banget. Aku sudah berkali-kali mengajarinya, tapi dia tetap aja dia gak bisa-bisa. Hampir saja aku tadi kelepasan ngomong kata-kata kasar saking sebalnya. Dasar anak bodoh. Uuh, capek aku. Dan tidak ada satupun kata-kata yang terlewatkan oleh Setbu. Tidak akan pernah. Karena begitulah pekerjaannya.

Setbu kembali berbaring sambil menahan kesal. “Dasar Setba sok banget sih dia. Sok kuasa. Mentang-mentang dia yang menggerakkan hati si Ia, seenaknya aja dia bentak-bentak. Apa sih kelebihan dia. Umurnya sama dengan umurku. Sifatnya juga sama. Dan dia juga gak lebih pintar daripada aku. Cuma warna kulit aja yang beda.” sungut Setbu. Setbu terdiam. Dia menoleh ke mahluk berjubah putih yang berada di sebelahnya, yang sedang tidur-tiduran. Alat-alat kerja mahluk itu sama dengan alat kerjanya, speaker, mikrofon, sirene dan layar monitor beserta tombol-tombolnya. Tapi alat-alat kerja itu masih bersih dan berfungsi dengan baik. Speaker dan mikrofonnya tidak berdengung, sirenenya masih halus suaranya dan layarnya masih terang. Ah pantas aja masih bagus. Jarang banget dipakai sih, pikir Setbu sambil melengos. Namun yang mengherankan, mahluk yang di sebelahnya itu tidak pernah sekalipun bertengkar dengan saudaranya, yang mempunyai tugas menggerakkan hati si Ia, sama seperti Setba. Setbu menyeringai. Sinis. Lalu kembali melihat layar monitornya; Baju apaan tuh. Udah ketinggalan jaman aja masih tetap dipakai. Bahannya juga jelek. Pasti murahan. Tidak seperti punyaku  Kemudian tulisan itu berganti; Sepatunya juga amit-amit banget. Model kuno. Dasar kampungan. Orang miskin kali dia. Untung aku tidak seperti itu. Dan Setbu lagi-lagi tidak menghiraukannya. Karena sirenenya tidak berbunyi…….
Setbu kembali melirik mahluk berjubah putih di sebelahnya. Ah dia masih tidur, pikirnya. Setbu maklum karena  memang di mana-mana seperti itu. Ya, ia ingat ketika pelatihan dulu. Semua si Ia yang didatanginya bersama Setba, sebagian besar rekan-rekannya lebih banyak bekerja dibandingkan mahluk berjubah putih itu. Tapi pernah mereka menemui rekannya yang kerjanya hanya berleha-leha saja sepanjang hari. Semua peralatan kerjanya dari tombol sampai layarnya masih bagus, tidak seperti peralatan kerja rekan-rekannya yang lain. Malahan peralatan kerja mahluk berjubah putih di sebelahnya yang terlihat usang. Layar monitor yang menampilkan tulisan ; Kenapa Bella sampai melakukan kesalahan fatal seperti itu ya ? Tidak seperti biasanya. Ah, mungkin dia sedang tidak enak badan atau mungkin ada masalah pribadi yang belum terselesaikan. Lebih baik aku tanyakan saja sekarang kepadanya , itu saja kadang-kadang meredup dan bergoyang tiba-tiba. Namun tampaknya mahluk berjubah putih itu tidak terganggu olehnya. Dia tetap saja menekan tombol-tombol yang cetakan hurufnya sudah tidak jelas itu dengan tekun. Saat itu Setbu dan Setba hanya diam terheran-heran. “ Unik sekali si Ia yang satu ini.”, pikir mereka.

Setbu menggeliat. Kakinya direntangkan lurus-lurus. Dan matanya kembali beralih ke layar monitornya yang terus saja berganti-ganti tulisan. Terus menerus. Setiap saat. Tapi dia tidak membacanya. Cuma melirik. Karena sirenenya tidak berbunyi. Wah Setba memang pekerja keras, pikirnya. Memang tugas menggerakkan hati si Ia lebih banyak dan lebih berat dibanding menggerakkan mulut si Ia. Di semua tempat juga begitu, pikirnya lagi. Tidak mengherankan. Sudah biasa….
Dan sudah biasa pula Setbu akan menekan tombol-tombol penggerak mulut si Ia bila sirenenya berbunyi. Dan akan menggoyang-goyangkan kaki sambil bersiul-siul bila sirenenya tidak berbunyi. Begitu terus sepanjang hari.
Karena memang begitu sistem kerja SETBU, si SETAN BURUK dan SETBA, si SETAN BAIK…


Jakarta, 9 September 2006

Oleh : Cynthia Indri KD
 

 
 
 


 

No comments:

Post a Comment