Sunday, 8 March 2015

AKU BERJALAN DISERET





AKU BERJALAN DISERET.  Aku berjalan diseret oleh delman kecil beroda besar yang ditarik oleh seekor kuda hitam. Kedua tanganku diikat kuat dengan tali tambang. Tali itu diikatkan berulang-ulang sampai benar-benar mencengkram tanganku.
Delman yang menyeretku itu hanya mempunyai satu kursi. Kursi yang diperuntukkan bagi sang kusir, orang yang mengendalikan kuda untuk berjalan lurus, belok kiri, belok kanan, jalan cepat, jalan lambat, jalan setengah cepat, lari lambat, lari cepat, diam, duduk dan sebagainya tergantung kemauan tuannya. Tapi mengapa banyak sekali orang yang menaiki delman itu. Papa, mama, eyang putri, eyang kakung, kakak, adik, pak de, bu de, tante, om, teman-teman, tetangga-tetangga, guru-guruku, bahkan orang-orang yang tidak aku kenal sama sekali. Mereka bergantian menjadi sang kusir dan tidak keberatan untuk duduk berdesak-desakkan di atas atap, bergelantungan di jari-jari roda maupun di tiang-tiang delman bila bukan giliran mereka untuk mengendalikan kuda.  
Aku tidak begitu tahu sudah berapa lama aku berjalan seperti ini. Apakah sudah dimulai ketika aku pertama kali melihat Dunia, begitulah aku menyebut orang-orang yang berada di atas delman itu, ataukah ketika aku mulai dapat berjalan menggunakan kedua tangan dan dengkul kakiku. Aku tidak tahu. Dan tidak ada yang memberitahuku. Yang aku ingat, aku sudah berjalan seperti ini ketika aku pertama kali mengenal benda-benda yang dinamakan buah pisang, buah pepaya, nasi, susu, kucing, anjing, bunga, rumput. Dan juga ketika aku pertama kali mengetahui kalau orang yang sering memberi obat ketika pilek namanya dokter atau orang yang membuat gambar-gambar bagus namanya pelukis. Mulai saat itu aku hanya berjalan mengikuti Dunia, mengikuti arah yang dia inginkan untuk berjalan.           


Aku pernah mencoba menentang Dunia. Ketika itu aku berjalan melewati hutan belantara yang dipenuhi pohon-pohon besar dan hewan-hewan buas. Aku meminta kepada Dunia agar diperbolehkan berhenti sejenak karena baru saja ada batu tajam yang menggores kakiku. Tapi Dunia menolaknya dan bersikeras untuk tidak berhenti. Malah menambah kecepatannya. Karena marah dan kesal ditambah kaki yang sakit, aku duduk sambil tetap diseret. Dunia menyuruhku untuk berdiri dan berlari. Aku tetap tidak mau. Tiba-tiba dari arah belakang, datang seekor macan yang siap menerkamku. Aku yang ketika itu masih setinggi roda delman, langsung berdiri dan berlari mengimbangi jalan delman yang semakin cepat. Aku berlari dan tetap berlari. Sampai akhirnya aku keluar dari hutan itu dan terbebas dari terkaman si macan.
Keinginanku untuk menentang Dunia muncul kembali ketika aku mulai merasakan payudaraku membesar dan mulai terlihat bulu-bulu yang tumbuh di tempat-tempat tersembunyi di tubuhku. Waktu itu Dunia dan tentu saja aku, sedang beristirahat di bawah pohon besar, seorang kakek tua dengan janggut panjang dan baju putih menghampiriku sambil berkata,”Kamu adalah sang kusir”. Aku tidak begitu mengerti maksud si kakek itu. Saat itu aku hanya berpikir bila aku yang menjadi kusir, aku akan terlihat gagah karena akan memegang cambuk untuk mengendalikan si kuda. Aku mengutarakan maksudku untuk menjadi kusir kepada Dunia. Dunia kaget bercampur marah. Dan mudah ditebak, dia tidak mengijinkanku untuk menggantikannya. Aku tidak dapat menerimanya. Ketika mulai berjalan lagi, dengan sangat hati-hati aku memanjat tiang, memanjat atap, bergelantungan di roda delman, sambil memukul, menendang, menarik Dunia dan akhirnya merebut kursi sang kusir. Aku mencambuk dan terus mencambuk kuda itu agar berlari lebih cepat. Dengan begitu Dunia tidak akan dapat mengejarku dan merebut kursi ini lagi. Kuda itu berlari semakin cepat. Cepat sekali. Sehingga delman yang ditariknya  juga bergoyang-goyang kencang dan akhirnya jatuh terguling. Begitu pula aku, jatuh tak sadarkan diri……Sejak saat itu aku jera dan berjanji tidak akan lagi menentang Dunia. Aku tetap saja berjalan menuruti Dunia kemana arah yang ia inginkan. Walaupun sekali waktu pernah kulihat delman dengan bentuk yang sama namun tanpa sang kusir.



Aku sering bertanya-tanya apakah mataku sama dengan mata Dunia atau tidak….sampai sekarang. Di mataku ada bola mata, retina, kornea dan lensa mata. Apakah mata Dunia seperti itu juga, aku tidak tahu pasti. Bila aku ingin beristirahat di suatu tempat yang sangat indah karena kulihat rumput-rumput hijau, kupu-kupu beterbangan,, sungai dengan airnya yang jernih, dan orang-orang cantik dan tampan, Dunia hanya melirik dan bergidik. Menurutnya tempat itu penuh dengan sampah, bangkai binatang dan orang-orang hina. Lalu mereka akan terus menyeretku ke tempat yang sangat aneh untuk beristirahat. Sangat aneh. Karena kulihat rumputnya berwarna merah, anjing bersayap, burung menggonggong, orang-orang yang berjalan dengan kepala di bawah yang mengeluarkan suara aneh. Tapi aku tetap menuruti Dunia. Aku tetap beristirahat di tempat itu namun kututup telinga dan mataku, sampai waktuku untuk berjalan lagi.
Begitu pula ketika di tengah perjalanan kuingin mengikuti seseorang yang berjalan tegap, berwajah rupawan bak dewa, bermata indah, bertangan lembut, dan selalu tersenyum ramah, Dunia akan menyeringai sinis dan menganggap orang itu tidak berguna dan tidak beradab. Dan sebaliknya Dunia akan menyeretku untuk mengikuti mahluk yang menurutnya beradab. Namun yang kulihat hanya mahluk yang mirip si Bedu, monyet yang kutemui di hutan waktu itu. Tapi aku tidak menentang Dunia. Aku tetap mengikuti mahluk itu. Bila ia meloncat-loncat, aku juga meloncat-loncat. Bila ia memonyong-monyongkan bibirnya, aku ikut memonyong-monyongkan bibirku. Bila ia menjulur-julurkan lidahnya, aku tidak akan ketinggalan menjulur-julurkan lidahku. Dan juga bila ia bergelantungan ataupun membelakangiku sambil menggoyang-goyangkan pantatnya, aku akan mengikutinya. Setiap gerakannya tak akan luput dari mataku. Namun tiba-tiba Dunia memukulku, menendangku, mencambukku berkali-berkali, menampar wajahku, menjambak rambutku, meludahiku, karena menurutnya aku sangat memalukan. Dunia berteriak-berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arahku dan berkata, “Kamu akan menyesal.” Aku hanya diam terpaku dan tetap tidak mengerti dimana letak kesalahanku.

Aku terseok-seok. Aku berjalan terseok-seok mengikuti jalannya delman. Kaki kananku melangkah pelan karena menahan badan dan kaki kiriku yang tidak kuat lagi menapak. Keringat sudah mengucur deras di wajahku dan membasahi bajuku yang mulai memudar warnanya. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku capek. Aku lelah. Dan aku haus. Aku ingin mencari delman tak berkusir itu; yang pernah kulihat dulu. Aku ingin mencarinya sampai dapat. Dan pergi menuju tempat yang indah yang pernah kulewati. Aku ingin mengejar kupu-kupunya, aku ingin mandi di sungainya yang jernih, aku ingin berjalan di rumputnya yang hijau bersama orang-orang disana. Aku juga ingin pergi menemui orang rupawan bak dewa itu. Karena aku ingin berjalan tegap seperti dia, ingin tersenyum penuh keramahan seperti dia, ingin mempunyai mata yang bersinar-sinar seperti matanya, dan ingin mempunyai tangan selembut tangannya. Ya, ya aku menginginkan itu semua. Sangat menginginkannya. Maka dengan sisa tenaga yang ada padaku; aku tarik, aku gigit dan aku putuskan tali yang mengikat kuat tanganku. Luka-luka yang diakibatkannya tak kurasakan. Susah payah aku membukanya. Aku terus dan terus berusaha membukanya. Ah, akhirnya berhasil juga. Tanganku tak terikat lagi. Dengan pelan kulangkahkan kakiku menuju kebebasanku. Tapi kenapa terasa berat sekali. Aku mencoba  melangkah lagi. Lagi. Lebih keras lagi. Nihil. Aku melihat ke arah depan, ke arah delman itu, dan baru aku menyadarinya……AKU BERJALAN TERSERET……..

Jakarta, 26 April 2004

Oleh :Cynthia Indri KD





No comments:

Post a Comment