AKU BERJALAN DISERET. Aku berjalan
diseret oleh delman kecil beroda besar yang ditarik oleh seekor kuda hitam.
Kedua tanganku diikat kuat dengan tali tambang. Tali itu diikatkan
berulang-ulang sampai benar-benar mencengkram tanganku.
Delman yang menyeretku itu hanya mempunyai satu kursi. Kursi yang
diperuntukkan bagi sang kusir, orang yang mengendalikan kuda untuk berjalan
lurus, belok kiri, belok kanan, jalan cepat, jalan lambat, jalan setengah
cepat, lari lambat, lari cepat, diam, duduk dan sebagainya tergantung kemauan
tuannya. Tapi mengapa banyak sekali orang yang menaiki delman itu. Papa, mama,
eyang putri, eyang kakung, kakak, adik, pak de, bu de, tante, om, teman-teman,
tetangga-tetangga, guru-guruku, bahkan orang-orang yang tidak aku kenal sama
sekali. Mereka bergantian menjadi sang kusir dan tidak keberatan untuk duduk
berdesak-desakkan di atas atap, bergelantungan di jari-jari roda maupun di
tiang-tiang delman bila bukan giliran mereka untuk mengendalikan kuda.
Aku tidak begitu tahu sudah berapa lama aku berjalan
seperti ini. Apakah sudah dimulai ketika aku pertama kali melihat Dunia,
begitulah aku menyebut orang-orang yang berada di atas delman itu, ataukah
ketika aku mulai dapat berjalan menggunakan kedua tangan dan dengkul kakiku. Aku
tidak tahu. Dan tidak ada yang memberitahuku. Yang aku ingat, aku sudah
berjalan seperti ini ketika aku pertama kali mengenal benda-benda yang
dinamakan buah pisang, buah pepaya, nasi, susu, kucing, anjing, bunga, rumput.
Dan juga ketika aku pertama kali mengetahui kalau orang yang sering memberi
obat ketika pilek namanya dokter atau orang yang membuat gambar-gambar bagus
namanya pelukis. Mulai saat itu aku hanya berjalan mengikuti Dunia, mengikuti
arah yang dia inginkan untuk berjalan.
Aku pernah mencoba menentang Dunia. Ketika itu aku berjalan melewati
hutan belantara yang dipenuhi pohon-pohon besar dan hewan-hewan buas. Aku
meminta kepada Dunia agar diperbolehkan berhenti sejenak karena baru saja ada
batu tajam yang menggores kakiku. Tapi Dunia menolaknya dan bersikeras untuk
tidak berhenti. Malah menambah kecepatannya. Karena marah dan kesal ditambah
kaki yang sakit, aku duduk sambil tetap diseret. Dunia menyuruhku untuk berdiri
dan berlari. Aku tetap tidak mau. Tiba-tiba dari arah belakang, datang seekor
macan yang siap menerkamku. Aku yang ketika itu masih setinggi roda delman,
langsung berdiri dan berlari mengimbangi jalan delman yang semakin cepat. Aku
berlari dan tetap berlari. Sampai akhirnya aku keluar dari hutan itu dan
terbebas dari terkaman si macan.
Keinginanku untuk menentang Dunia muncul kembali ketika
aku mulai merasakan payudaraku membesar dan mulai terlihat bulu-bulu yang
tumbuh di tempat-tempat tersembunyi di tubuhku. Waktu itu Dunia dan tentu saja
aku, sedang beristirahat di bawah pohon besar, seorang kakek tua dengan janggut
panjang dan baju putih menghampiriku sambil berkata,”Kamu adalah sang kusir”.
Aku tidak begitu mengerti maksud si kakek itu. Saat itu aku hanya berpikir bila
aku yang menjadi kusir, aku akan terlihat gagah karena akan memegang cambuk
untuk mengendalikan si kuda. Aku mengutarakan maksudku untuk menjadi kusir
kepada Dunia. Dunia kaget bercampur marah. Dan mudah ditebak, dia tidak
mengijinkanku untuk menggantikannya. Aku tidak dapat menerimanya. Ketika mulai
berjalan lagi, dengan sangat hati-hati aku memanjat tiang, memanjat atap,
bergelantungan di roda delman, sambil memukul, menendang, menarik Dunia dan
akhirnya merebut kursi sang kusir. Aku mencambuk dan terus mencambuk kuda itu
agar berlari lebih cepat. Dengan begitu Dunia tidak akan dapat mengejarku dan
merebut kursi ini lagi. Kuda itu berlari semakin cepat. Cepat sekali. Sehingga
delman yang ditariknya juga
bergoyang-goyang kencang dan akhirnya jatuh terguling. Begitu pula aku, jatuh
tak sadarkan diri……Sejak saat itu aku jera dan berjanji tidak
akan lagi menentang Dunia. Aku tetap saja berjalan menuruti Dunia kemana arah
yang ia inginkan. Walaupun sekali waktu pernah kulihat delman dengan bentuk
yang sama namun tanpa sang kusir.
Aku sering bertanya-tanya apakah mataku sama dengan mata Dunia atau
tidak….sampai sekarang. Di mataku ada bola mata, retina, kornea dan lensa mata.
Apakah mata Dunia seperti itu juga, aku tidak tahu pasti. Bila aku ingin
beristirahat di suatu tempat yang sangat indah karena kulihat rumput-rumput
hijau, kupu-kupu beterbangan,, sungai dengan airnya yang jernih, dan
orang-orang cantik dan tampan, Dunia hanya melirik dan bergidik. Menurutnya
tempat itu penuh dengan sampah, bangkai binatang dan orang-orang hina. Lalu
mereka akan terus menyeretku ke tempat yang sangat aneh untuk beristirahat.
Sangat aneh. Karena kulihat rumputnya berwarna merah, anjing bersayap, burung
menggonggong, orang-orang yang berjalan dengan kepala di bawah yang
mengeluarkan suara aneh. Tapi aku tetap menuruti Dunia. Aku tetap beristirahat
di tempat itu namun kututup telinga dan mataku, sampai waktuku untuk berjalan
lagi.
Begitu pula ketika di tengah perjalanan kuingin
mengikuti seseorang yang berjalan tegap, berwajah rupawan bak dewa, bermata
indah, bertangan lembut, dan selalu tersenyum ramah, Dunia akan menyeringai
sinis dan menganggap orang itu tidak berguna dan tidak beradab. Dan sebaliknya
Dunia akan menyeretku untuk mengikuti mahluk yang menurutnya beradab. Namun
yang kulihat hanya mahluk yang mirip si Bedu, monyet yang kutemui di hutan
waktu itu. Tapi aku tidak
menentang Dunia. Aku tetap mengikuti mahluk itu. Bila ia meloncat-loncat, aku
juga meloncat-loncat. Bila ia memonyong-monyongkan bibirnya, aku ikut
memonyong-monyongkan bibirku. Bila ia menjulur-julurkan lidahnya, aku tidak
akan ketinggalan menjulur-julurkan lidahku. Dan juga bila ia bergelantungan
ataupun membelakangiku sambil menggoyang-goyangkan pantatnya, aku akan
mengikutinya. Setiap gerakannya tak akan luput dari mataku. Namun tiba-tiba
Dunia memukulku, menendangku, mencambukku berkali-berkali, menampar wajahku,
menjambak rambutku, meludahiku, karena menurutnya aku sangat memalukan. Dunia
berteriak-berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arahku dan berkata, “Kamu akan
menyesal.” Aku hanya diam terpaku dan tetap tidak mengerti dimana letak
kesalahanku.
Aku terseok-seok. Aku berjalan terseok-seok mengikuti jalannya delman.
Kaki kananku melangkah pelan karena menahan badan dan kaki kiriku yang tidak
kuat lagi menapak. Keringat sudah mengucur deras di wajahku dan membasahi
bajuku yang mulai memudar warnanya. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku capek. Aku
lelah. Dan aku haus. Aku ingin mencari delman tak berkusir itu; yang pernah
kulihat dulu. Aku ingin mencarinya sampai dapat. Dan pergi menuju tempat yang
indah yang pernah kulewati. Aku ingin mengejar kupu-kupunya, aku ingin mandi di
sungainya yang jernih, aku ingin berjalan di rumputnya yang hijau bersama
orang-orang disana. Aku juga ingin pergi menemui orang rupawan bak dewa itu.
Karena aku ingin berjalan tegap seperti dia, ingin tersenyum penuh keramahan
seperti dia, ingin mempunyai mata yang bersinar-sinar seperti matanya, dan
ingin mempunyai tangan selembut tangannya. Ya, ya aku menginginkan itu semua.
Sangat menginginkannya. Maka dengan sisa tenaga yang ada padaku; aku tarik, aku
gigit dan aku putuskan tali yang mengikat kuat tanganku. Luka-luka yang
diakibatkannya tak kurasakan. Susah payah aku membukanya. Aku terus dan terus
berusaha membukanya. Ah, akhirnya berhasil juga. Tanganku tak terikat lagi.
Dengan pelan kulangkahkan kakiku menuju kebebasanku. Tapi kenapa terasa berat
sekali. Aku mencoba melangkah lagi.
Lagi. Lebih keras lagi. Nihil. Aku melihat ke arah depan, ke arah delman itu,
dan baru aku menyadarinya……AKU BERJALAN TERSERET……..
Jakarta, 26 April 2004

No comments:
Post a Comment