"Ndri, kamu kalau sudah lulus kuliah harus bekerja di kantor. Jangan seperti mama." itulah yang selalu mama saya katakan terhadap anak-anak perempuannya termasuk saya. Saya sangat mengerti posisi mama saat itu yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Keluarga kami adalah keluarga sederhana sehingga penghasilan papa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walaupun mama seorang sarjana, namun papa melarangnya untuk bekerja di luar rumah dikarenakan pekerjaan papa yang mengharuskannya bertugas di luar daerah bahkan luar pulau sampai berbulan-bulan. Apalagi umur saya dan abang saya jaraknya sangat berdekatan sehingga tidak memungkinkan mama saya untuk bekerja kantoran. Sehingga sejak kecil saya selalu berpikiran saya akan meraih sukses bila bekerja kantoran.
Ketika kuliah, saya memilih jurusan Teknik Sipil di Universitas negeri di Jawa Tengah, jurusan yang didominasi pria sehingga cenderung mengarahkan wanita di jurusan tersebut memiliki sifat seperti seorang pria termasuk ke'ambisius'annya. Dan kebetulan sahabat-sahabat saya adalah wanita-wanita yang sangat mandiri.
Setelah lulus kuliah, saya berganti-ganti pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Selama tiga tahun pertama, saya pindah pekerjaan selama tiga kali. Dan pada tahun keempat saya mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan fastfood terbesar di Indonesia. Selama empat tahun saya bekerja di perusahaan tersebut. Setelah itu, saya diterima bekerja di salah satu ritel terbesar di Indonesia dan bekerja selama 5.5 tahun. Jadi sekitar 12 tahun saya bekerja kantoran sebelum saya memutuskan resign untuk fokus mengurus putri saya tepat ketika waktu Lebaran tahun lalu. Sebenarnya sangat berat bagi saya untuk memutuskan resign dikarenakan selain saya tidak bisa mempunyai penghasilan sendiri dan karena sudah biasa mempunyai kegiatan di luar rumah, juga karena khawatir dengan pandangan sahabat-sahabat saya terhadap profesi ibu rumah tangga . Apalagi saat itu atasan saya kurang berkenan dengan keinginan saya waktu itu. Namun saya bertekad untuk resign karena putri saya ketika itu berusia 14 bulan, mengalami gatal-gatal yang tak kunjung sembuh. Selain itu, saya tidak ingin lagi mengalami kejadian seperti tahun sebelumnya yaitu saya tidak dapat masuk kerja selama 2 minggu sehabis Lebaran hanya karena ART yang tak kembali. Dengan alasan-alasan tersebut di atas, suami saya menganjurkan agar mengambil jalan tengah yaitu saya bisa bekerja sebagai pegawai kantoran namun jangan terlalu jauh dari rumah sehingga bisa memantau putri saya. Maka saya sangat bersemangat sekali ketika ada perusahaan yang dekat dari rumah, memilih saya untuk melakukan job interview. Namun setelah empat kali melakukan tes, saya tidak dipanggil lagi untuk tes berikutnya. Sejak saat itu saya memutuskan untuk bekerja di rumah dengan menjalankan bisnis kecil-kecilan.
Setelah lulus kuliah, saya berganti-ganti pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Selama tiga tahun pertama, saya pindah pekerjaan selama tiga kali. Dan pada tahun keempat saya mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan fastfood terbesar di Indonesia. Selama empat tahun saya bekerja di perusahaan tersebut. Setelah itu, saya diterima bekerja di salah satu ritel terbesar di Indonesia dan bekerja selama 5.5 tahun. Jadi sekitar 12 tahun saya bekerja kantoran sebelum saya memutuskan resign untuk fokus mengurus putri saya tepat ketika waktu Lebaran tahun lalu. Sebenarnya sangat berat bagi saya untuk memutuskan resign dikarenakan selain saya tidak bisa mempunyai penghasilan sendiri dan karena sudah biasa mempunyai kegiatan di luar rumah, juga karena khawatir dengan pandangan sahabat-sahabat saya terhadap profesi ibu rumah tangga . Apalagi saat itu atasan saya kurang berkenan dengan keinginan saya waktu itu. Namun saya bertekad untuk resign karena putri saya ketika itu berusia 14 bulan, mengalami gatal-gatal yang tak kunjung sembuh. Selain itu, saya tidak ingin lagi mengalami kejadian seperti tahun sebelumnya yaitu saya tidak dapat masuk kerja selama 2 minggu sehabis Lebaran hanya karena ART yang tak kembali. Dengan alasan-alasan tersebut di atas, suami saya menganjurkan agar mengambil jalan tengah yaitu saya bisa bekerja sebagai pegawai kantoran namun jangan terlalu jauh dari rumah sehingga bisa memantau putri saya. Maka saya sangat bersemangat sekali ketika ada perusahaan yang dekat dari rumah, memilih saya untuk melakukan job interview. Namun setelah empat kali melakukan tes, saya tidak dipanggil lagi untuk tes berikutnya. Sejak saat itu saya memutuskan untuk bekerja di rumah dengan menjalankan bisnis kecil-kecilan.
Sebenarnya suami saya sangat mendukung keputusan saya untuk berbisnis. Karena almarhum ibu mertua saya adalah pengusaha yang cukup sukses di bidang supply makanan. Tapi karena tidak ada yang meneruskannya, bisnisnya makin lama makin memudar. Dukungan suami saya itu berupa pemberian modal apapun bisnis yang akan saya geluti. Sebenarnya saya agak takut untuk memulai bisnis karena selain tidak tahu akan memulai bisnis apa, terutama juga karena takut gagal.
Setelah berpikir, saya memutuskan berbisnis buku anak. Saya berpikir toh kalau tidak laku pun, buku itu akan berguna untuk putri saya. Oleh karena itu saya mencoba menjadi resellernya. Kebanyakan saya mempromosikannya melalui online, yaitu melalui media sosial atau melalui website dan fanpage yang saya buat. Saya sangat menyadari, menjual secara online tidaklah mudah karena harus membangun kepercayaan costumer terlebih dahulu. Tapi saya yakin, dengan kesabaran dan ketekunan, pasti akan membuahkan hasil. Pertama kali mempromosikan di media sosial, saya sangat kecewa karena tidak ada yang memberikan comment atau meg'like' nya. Namun saya teringat tulisan agen saya bahwa jangan malas untuk beriklan walaupun tidak ada yang merespon karena iklan adalah sebuah investasi, seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar misalnya Unilever yang menghabiskan bermilyar-milyar untuk beriklan. Banyak ilmu yang saya dapatkan dari bisnis ini melalui training online agen saya yaitu marketing strategy dan ilmu tentang perkembangan anak.
Dan karena Indonesia kurang merespon yang namanya 'buku', maka saya berinisiatif juga melakukan bisnis makanan sehat organik (non msg dan non pengawet). Saya juga berpikir, kalau tidak laku pun, makanan itu dapat dimakan oleh keluarga saya terutama anak saya. Dan seperti biasa, saya melakukan promosi melalui online karena saya tidak bisa sering meninggalkan putri saya yang masih kecil untuk melakukan promosi offline. Untunglah seminggu kemudian, teman saya mau menjadi reseller saya. Dia berencana melakukan promosi offline di apartemennya maupun di kantornya. Yang pertama kami lakukan adalah pricing strategy agar bisa bersaing dengan reseller lain namun tidak menganggu kemitraan kami.
Di bisnis buku, saya menjadi reseller yang ditraining oleh agen saya namun di bisnis makanan sehat, saya menjadi distributor yang men'training' reseller saya. Maka saya sangat membutuhkan buku '`Sukses bekerja dari rumah' agar dapat mengembangkan bisnis saya yang masih sangat sangat seumur jagung. Walaupun buku S2 saya banyak membahas tentang bisnis namun banyak membahas bisnis-bisnis perusahaan besar.
Terus terang beberapa hari lalu saya sangat 'down' untuk terus bekerja di rumah, karena saya harus merintis sesuatu dari awal lagi seperti saya merintis karir sebagai pegawai kantoran dahulu. Saya sering berkata ke suami saya, "Aku tuh seperti bayi yang baru lahir. Tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti apa yang akan dilakukan." Namun bila mengingat keuntungan bekerja di rumah yaitu bisa mengamati perkembangan putri saya, semangat saya mulai bangkit lagi. Dan hal positif lainnya yaitu dengan melakukan bisnis di rumah, ilmu saya pun makin bertambah termasuk bagaimana mendisplinkan diri kita sendiri dalam memanajemen waktu dan keuangan agar bisa terus melangkah maju.
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Menulis 'Asyiknya bekerja dari rumah'
Setelah berpikir, saya memutuskan berbisnis buku anak. Saya berpikir toh kalau tidak laku pun, buku itu akan berguna untuk putri saya. Oleh karena itu saya mencoba menjadi resellernya. Kebanyakan saya mempromosikannya melalui online, yaitu melalui media sosial atau melalui website dan fanpage yang saya buat. Saya sangat menyadari, menjual secara online tidaklah mudah karena harus membangun kepercayaan costumer terlebih dahulu. Tapi saya yakin, dengan kesabaran dan ketekunan, pasti akan membuahkan hasil. Pertama kali mempromosikan di media sosial, saya sangat kecewa karena tidak ada yang memberikan comment atau meg'like' nya. Namun saya teringat tulisan agen saya bahwa jangan malas untuk beriklan walaupun tidak ada yang merespon karena iklan adalah sebuah investasi, seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar misalnya Unilever yang menghabiskan bermilyar-milyar untuk beriklan. Banyak ilmu yang saya dapatkan dari bisnis ini melalui training online agen saya yaitu marketing strategy dan ilmu tentang perkembangan anak.
Dan karena Indonesia kurang merespon yang namanya 'buku', maka saya berinisiatif juga melakukan bisnis makanan sehat organik (non msg dan non pengawet). Saya juga berpikir, kalau tidak laku pun, makanan itu dapat dimakan oleh keluarga saya terutama anak saya. Dan seperti biasa, saya melakukan promosi melalui online karena saya tidak bisa sering meninggalkan putri saya yang masih kecil untuk melakukan promosi offline. Untunglah seminggu kemudian, teman saya mau menjadi reseller saya. Dia berencana melakukan promosi offline di apartemennya maupun di kantornya. Yang pertama kami lakukan adalah pricing strategy agar bisa bersaing dengan reseller lain namun tidak menganggu kemitraan kami.
Di bisnis buku, saya menjadi reseller yang ditraining oleh agen saya namun di bisnis makanan sehat, saya menjadi distributor yang men'training' reseller saya. Maka saya sangat membutuhkan buku '`Sukses bekerja dari rumah' agar dapat mengembangkan bisnis saya yang masih sangat sangat seumur jagung. Walaupun buku S2 saya banyak membahas tentang bisnis namun banyak membahas bisnis-bisnis perusahaan besar.
Terus terang beberapa hari lalu saya sangat 'down' untuk terus bekerja di rumah, karena saya harus merintis sesuatu dari awal lagi seperti saya merintis karir sebagai pegawai kantoran dahulu. Saya sering berkata ke suami saya, "Aku tuh seperti bayi yang baru lahir. Tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti apa yang akan dilakukan." Namun bila mengingat keuntungan bekerja di rumah yaitu bisa mengamati perkembangan putri saya, semangat saya mulai bangkit lagi. Dan hal positif lainnya yaitu dengan melakukan bisnis di rumah, ilmu saya pun makin bertambah termasuk bagaimana mendisplinkan diri kita sendiri dalam memanajemen waktu dan keuangan agar bisa terus melangkah maju.
Tulisan ini disertakan dalam Lomba Menulis 'Asyiknya bekerja dari rumah'

.jpg)


sukses ya mbak buat lombanya... betul mak, memang bekerja di rumah ada untungnya juga :D salam kenal mak
ReplyDeletemakasih mak...salam kenal juga....
DeleteSukses ya mbak..emang dekat dg anak lebih menentramkan
ReplyDeleteSukses ya mbak..emang dekat dg anak lebih menentramkan
ReplyDeleteiya mak..makasih banyak...
Deletesama mbak, sy juga masih merintis usaha rumahan dg memanfaatkan socmed. semoga sukses bisnisnya mak :)
ReplyDeletemakasih banyak...sukses juga ya mbak lathifah...
DeleteSukses utk lombanya ya mak. Salam kenal :)
ReplyDeletemakasih...salam kenal juga..
Deletesekarang bekerja di rumah juga bisa sama asyiknya :)
ReplyDelete