Friday, 13 March 2015

COMFORT ZONE


      Ada teman saya yang selalu berkata, "Aku menikah dengan suamiku bukan karena cinta tapi aku ingin menjadi orang yang lebih baik. Aku merasa nyaman (comfort) aja dengan dia." Walaupun kedengarannya sedikit 'selfish' tapi sebenarnya saya salut dan cukup mengerti mengenai pernyataan itu. Pasalnya, dia menikah selain karena alasan di atas, juga  mempunyai alasan yang jamak, yaitu karena 'dikejar-kejar' umur dan desakan dari keluarga. Dan kini usia pernikahan mereka sudah memasuki tahun ke - 8.
       Saya pernah menonton suatu episode di serial sitkom berjudul 'HOW I MET YOUR MOTHER' (HIMYM) , season 9 dimana Robin ( Cobie Smulders ) masih belum yakin atau dengan kata lain ragu-ragu untuk menikah dengan Barney ( Neil Patrick Harris) padahal mereka sudah bertunangan. Dan mudah ditebak, pada saat mendekati hari H- nya terjadilah kekacauan karena kebingungan Robin untuk berjalan ke altar. Ketidakyakinan Robin bermula dari tidak ditemukannya liontin yang selama ini dia kubur di Central Park yang ia sebut sebagai 'something old'. Keberadaan liontin itu ia yakini sebagai pertanda apakah universe akan mengijikannya untuk menikah dengan Barney atau tidak. Dengan berbagai drama dan dilema, akhirnya mereka berdua menikah juga. Namun pernikahan mereka hanya bertahan selama 3 tahun saja dikarenakan kesibukan Robin sebagai reporter yang mengharuskannya sering berkeliling dunia dalam waktu yang lama.

 
         Manusia adalah mahluk yang punya kemampuan untuk beradaptasi. Kenyamanan dapat dibangun dan dibentuk oleh manusia itu sendiri. Sebagai contoh kita sering mendengar istilah 'comfort zone' dalam dunia kerja. Sebelum memasuki comfort zone pasti kita mengalami ketidaknyamanan terlebih dahulu dikarenakan adanya tugas baru, rekan kerja baru, bos baru, lingkungan baru, dan lain-lain yang memusingkan. Tapi seiring berjalannya waktu, kita mulai memahami job description kita, mulai mengenal teman dan bos kita, dan lingkungan kerja kita dan artinya kita sudah berada di dalam comfort zone. Sebagian dari kita enggan untuk keluar dari zone itu namun tidak sedikit yang berani untuk mencari comfort zone lainnya agar dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik misalnya. Dalam lingkungan sosial, comfort zone dapat diartikan sebagai lingkungan yang berisi orang-orang yang telah bener-benar mengenal dan dikenal kita seperti sahabat dan keluarga sehingga kita tidak segan-segan untuk menunjukkan this is really who I am. 
          Di film  HIMYM, diceritakan bahwa Robin dan Barney telah menjalin persahabatan selama bertahun-tahun. Malahan di tengah-tengah jalinan persahabatan, mereka sempat berpacaran beberapa waktu namun putus di tengah jalan. Maka dapat dipastikan, mereka berdua telah mengenal pribadi masing-masing dan sudah berada di 'comfort zone'. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa Robin masih mengalami keragu-raguan ketika akan menikah dengan Barney sehingga walaupun tetap menikah, pernikahan mereka tidak bertahan lama. Kemungkinan jawabannya adalah Robin masih ragu akan cintanya kepada Barney dan dia pun ragu akan cinta Barney kepadanya. 
         Terus terang saya tidak begitu mengerti apa makna dari cinta itu sendiri. Mungkin saat berumur 20-an, saya akan memaknai cinta itu sebagai hal-hal yang membuat saya bahagia, membuat saya tersenyum atau tertawa. Sehingga seperti lainnya, saya akan bertingkah 'lebay' untuk menunjukkan cinta kepada pasangan saya. Tapi saat saya sudah menikah, saya memaknai cinta itu sebagai pengorbanan. Saya sangat mencintai putri saya sehingga saya memutuskan untuk beralih profesi dari pegawai kantoran menjadi FTM yang tentu saja mengorbankan finansial, impian, karir bahkan harga diri saya. Saya menomorsatukan kepentingan anak saya di atas kepentingan saya sendiri. Sedangkan di film HIMYM, Robin belum mau mengorbankan karirnya untuk Barney yang artinya cinta Robin kepada dirinya sendiri lebih besar dari cintanya ke Barney. Pernikahan merupakan suatu komitmen dan kesiapan untuk berkorban dalam jangka panjang yang berarti kesiapan untuk mencintai dalam jangka panjang. Dalam hal ini saya tidak menyalahkan Robin, saya hanya menganggap Robin belum siap untuk berkorban untuk jangka panjang yang artinya dia belum siap untuk mencintai Barney dalam sebuah pernikahan. 
         Banyak wanita (termasuk saya) di Indonesia, yang mengalami kejadian seperti teman saya itu. Namun bila wanita-wanita tersebut masih mengurus keperluan suaminya.....masih mengurus keperluan anaknya....masih mengurus rumah tangganya....masih mendengarkan keluh kesahnya....masih memperbaiki kesalahan untuknya...dan tentu saja masih berada berada dalam pernikahan dengannya......Believe me girls, you just don't feel comfort....but YOU LOVE HIM.....


Dedicated to :
My husband and my princess
ALWAYS LOVE U

Jakarta, 13 Maret 2015
By : Cynthia Indri KD
 

5 comments:

  1. Perempuan jarang jujur dalam hal ini, demi ini...itu..dia..mereka...

    Salam kenal :)

    ReplyDelete
  2. Perempuan jarang jujur dalam hal ini, demi ini...itu..dia..mereka...

    Salam kenal :)

    ReplyDelete
  3. salam kenal mak.. saya jg resign krn kepentingan putri dan putra saya diatas segala2nya :) mampir mak ke blog aktif saya di : http://lovelyristin.wordpress.com :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga...ok mak ntar saya mampir :)....

      Delete